Tingkat Kepadatan Nutrisi Susu

Susu dianggap sebagai makanan dengan jumlah nutrisi yang relatif tinggi untuk jumlah energi yang diberikannya, yang dikenal sebagai nutrisi. Apakah nutrisi itu dan bagaimana perhitungannya?

Discussie over natrium: wel of geen minimum aanbeveling?Dalam ilmu gizi, perhatian semakin banyak diberikan pada pola makan dibanding berfokus pada asupan nutrisi tunggal. Yang dimaksud di sini adalah bahwa seseorang tidak mengonsumsi nutrisi-nutrisi tunggal secara terpisah, melainkan mengonsumsiberbagai macam makanan dalam suatu pola makan. Berbagai metode telah dikembangkan untuk menilai kualitas pola makanan ini dari perspektif kesehatan. Indeks Nutrient Rich Food (NRF) menyediakan informasi tentang nutrisi makanan dan memberi peringkat makanan berdasarkan kandungan gizi mereka. (1-2)

Kepadatan Nutrisi

Makanan dalam kelompok makanan utama memberikan nutrisi lebih dalam kaitannya dengan kebutuhan energi harian yang bertujuan untuk menjaga kesehatan dan pemeliharaan tubuh (3). Oleh karena itu makanan yang membentuk kelompok makanan utama dianggap ‘padat nutrisi’. Sebaliknya makanan di luar kelompok makanan utama, seperti makanan ringan, sering memiliki kepadatan energi tinggi namun dengan nutrisi lebih sedikit. Sehubungan dengan kepadatan nutrisi, makanan dinilai jumlah nutrisinya berdasarkanper 100 g, 100 kkal atau per porsi (4). Di Inggris, model pembuatan profil nutrisi dikembangkan oleh Food Standards Agency (FSA) sebagai alat untuk mengklasifikasikanmakanan berdasarkan kandungan gizi per 100 g makanan atau minuman. Sebenarnya, pendekatan ini dianggap paling sesuai dengan pencapaian Panduan Diet.

Menentukan kepadatan nutrisi

Penentuan kepadatan nutrisi dan penyediaan metode yang objektif untuk menilai kualitas nutrisi bahan pangan bukanlah suatu proses yang mudah. Di satu sisi, hal ini disebabkan tidak selalu adanya konsensus tentang tingkat asupan gizi yang memadai dan di sisi lain sulit untuk menerjemahkan pola makanan padat nutrisi untuk menjaga kesehatan. Nutrisi suatu makanan dapat dihitung dengan bantuan indeks NRF (Nutrient Rich Food index). NRF dapat ditentukan dengan hanya memperhitungkan ‘nutrisi positif’, seperti protein, serat, vitamin dan mineral, atau jika jumlah gula tambahan, lemak jenuh dan sodium juga disertakan. Ini disebut perhitungan NRF 9 : 3, di mana protein, serat, vitamin A, C dan E, kalsium, besi, magnesium dan potassium dianggap sebagai nutrisi positif dan gula tambahan, lemak jenuh dan sodium sebagai nutrisi negatif. Untuk setiap nutrisi, persetase Dietary Reference Intake yang dicapai dengan mengnsumsi 100 kkal makanan yang terkait dinilai, dengan 100% sebagai limit untuk nutrisi positif. Untuk tiap jenis makanan, persentase dari sembilan nutrisi positif dijumlahkan dan kemudian persentase dari tiga nutrisi negative. . Hasil perhitungan ini menghasilkan klasifikasi  berbagai makanan dengan tingkat kepadatan nutrisi tinggi versus rendah. (4) Hasil studi kohort prospektif di Belanda menunjukkan bahwa pola makanan dengan skor tinggi pada indeks NRF 9 : 3 menunjukkan keterkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah, namun tidak terkait dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Selain itu, keterkaitan ini lebih kuat untuk pria daripada wanita. (5)

Susu dan produk lainnya

Ketika berbagai makanan dinilai dengan menggunakan penghitungan NRF (9 : 3), menjadi jelas bahwa sayuran, jus jeruk (pasteurisasi), buah, yoghurt rendah lemak dan susu skim, kentang dan daging (steak dan pork chops) adalah produk dengan jumlah nutrisi proporsional lebih tinggi per 100 kkal. Pasta dan roti gandum juga memiliki nilai tinggi. Cokelat, kue dan biskuit dinilai memiliki nutrisi yang rendah menurut NRF (9 : 3). Karena masing-masing makanan memiliki rentang nutrisi tersendiri, penting untuk selalu mempertimbangkan konsumsi makanan yang bervariasi.

Referensi

  1. Waijers P.M.C.M. et al. A critical review of predefined diet quality scores. British Journal of Nutrition, 2007, Vol. 97, p. 219-231.
  2. Drewnowski A. The Nutrient Rich Foods Index helps to identify healthy, affordable foods. Am J Clin Nutr 2010. 91: p. 1095S–1101S.
  3. Department of Health. https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/216094/dh_123492.pdf. Diakses 23 Juni 2017 
  4. Drewnowski, A. (2010). The science behind the NRF index and its applications to food patterns. Presentation given at: Symposium on nutrient density 2010. Amsterdam May 21, 2010.
  5. Streppel, M.T., Sluik, D., Yperen, J. van, Geelen, A., Hofman, A., Franco, O.H., Witteman, J.C.M. and Feskens, E.J.M. (2014). Nutrient-rich foods, cardiovascular diseases and all-cause mortality: the Rotterdam study. European Journal of Clinical Nutrition, 2014, No. 68, pp. 741 – 747.