Ulasan baru: susu dan kesehatan

Produk susu termasuk dalam rekomendasi diet di seluruh dunia dan merupakan hal yang lazim dari pola makan sebagian besar masyarakat dunia. Oleh karena itu para ilmuwan meninjau penelitian yang telah ada mengenai dampak konsumsi susu dan produk-produk susu pada kesehatan, termasuk kesehatan kardiovaskular, kesehatan tulang dan mengontrol berat badan.

Dalam diet yang bervariasi, susu dan produk-produk susu lainnya berkontribusi pada asupan berbagai nutrisi, seperti protein dan kalsium. Oleh karena itulah susu dan produk-produk susu lainnya termasuk dalam rekomendasi diet di seluruh dunia. Penelitian menunjukkan bahwa susu dan produk susu lainnya berkontribusi pada tulang sehat dan pengontrolan berat badan. Tidak ada kaitan yang tidak menguntungkan sehubungan dengan kesehatan kardiovaskular.

Susu termasuk dalam rekomendasi diet di seluruh dunia dan merupakan bagian dari diet yang sehat dan bervariasi. Misalnya, susu dan produk-produk susu lainnya secara alami menyediakan banyak nutrisi yang kita butuhkan setiap hari, seperti protein dan kalsium. Namun, beberapa orang mempertanyakan apakah susu baik bagi kita. Baru-baru ini, dua artikel diterbitkan tentang studi epidemiologi dan Uji Acak Terkendali (Randomised Controled Trials, RCT), yang menganalisis hubungan antara susu dan produk-produk susu lainnya pada kesehatan (1-2). Hubungan tersebut ditinjau oleh Lamarche et al (2016) dan Thorning et al (2016). Ulasan tersebut dibahas secara lebih rinci dalam artikel ini, dengan fokus khusus pada kesehatan kardiovaskular, kesehatan tulang, dan pengontrolan berat badan.

Kesehatan jantung

Nieuwe review: melk en gezondheidPenelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi susu dan produk susu lainnya dan hasil yang kurang baik berkenaan dengan kesehatan kardiovaskular (1-2). Hal ini adalah kesimpulan dari tinjauan oleh Lamarche et al (2016) dan Thorning et al (2016). Dalam analisis ini, pengelompokan dilakukan pada berbagai hasil klinis yang terkait dengan kesehatan kardiovaskular: penyakit jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, dan gangguan kardiovaskular secara keseluruhan. Pada November 2016, sebuah ulasan yang menjelaskan secara detail pengetahuan ilmiah termuktakhir mengenai konsumsi berbagai produk susu dan kesehatan kardiovaskular telah diterbitkan.

Latar Belakang

Langkah penanganan utama gangguan kardiovaskular termasuk menurunkan konsentrasi kolesterol LDL dan tekanan darah. Penelitian menunjukkan bahwa asam lemak jenuh berdampak meningkatkan kolesterol LDL dalam darah dibandingkan dengan karbohidrat dan asam lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda. Oleh karena itu, rekomendasi umum yang diberikan adalah mengganti asam lemak jenuh dengan asam lemak tak jenuh ganda. Akan tetapi, seseorang tidak akan mengonsumsi zat gizi makro secara terpisah, melainkan makanan yang masing-masing memiliki zat gizi khusus dan profil zat gizi mikro tersendiri. Ini mungkin menjelaskan mengapa produk susu memiliki efek netral pada kesehatan kardiovaskular, bertentangan dengan ekspektasi yang didasarkan pada hubungan antara semua lemak jenuh dan kolesterol LDL. Bahkan, pengelompokan dapat dilakukan antara partikel kolesterol LDL yang lebih besar dan lebih kecil di mana partikel yang lebih kecil lebih tidak menguntungkan daripada partikel yang lebih besar. Partikel LDL padat kecil (sdLDL-p) kaya trigliserida. Mereka memiliki tingkat afinitas lebih rendah dengan reseptor LDL, menempelkan diri lebih mudah ke dinding pembuluh darah dan lebih sensitif terhadap oksidasi daripada partikel yang lebih besar. Sifat-sifat ini kurang menguntungkan bagi kesehatan sistem kardiovaskular. Tampaknya beberapa asam lemak jenuh (misalnya C14 dan C16) dalam produk susu khususnya memiliki efek pada partikel kolesterol LDL yang lebih besar. Selain itu, susu, yoghurt, keju dadih lunak, dan keju juga mengandung protein, kalsium, dan mineral lainnya. Susu secara alami juga mengandung kalsium serta mineral fosfor dan kalium. Zat-zat gizi ini juga dapat menjelaskan mengapa susu dan produk susu lainnya memiliki efek netral pada kesehatan kardiovaskular. (1-2) Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap hubungan rumit ini dan memperjelas relevansi klinisnya.

Oleh karena itu Mozzafarian (2016) menyarankan untuk lebih menekankan pada bahan makanan dan pola makan, bukan pada nutrisi tunggal dalam rekomendasi pola makan. Melalui penelitiannya, Mozzafarian (2016) menyarankan untuk fokus pada kualitas lemak daripada pengurangan konsumsi lemak. Menurut Mozzafarian, dalam praktik ini berarti: mengurangi konsumsi daging olahan dan bahan makanan yang mengandung kadar karbohidrat dan garam olahan yang relatif tinggi. Makanan yang disarankan adalah yoghurt, buah, sayuran, kacang, polong-polongan, ikan, produk gandum, dan minyak sayur. Telur, unggas, susu dan keju juga masuk ke dalam pola makan ini. (3).

Kesehatan tulang

Protein, kalsium, fosfor, magnesium, seng, dan vitamin K dan D berkontribusi pada pembangunan dan pemeliharaan massa tulang. Dalam pola makan keseluruhan, susu dan produk-produk susu pada dasarnya merupakan pemasok penting zat-zat gizi tersebut, dengan pengecualian vitamin D dalam produk susu yang tidak difortifikasi dan vitamin K2, yang tidak ditemukan dalam susu tetapi ditemukan dalam susu fermentasi dan produk susu (terutama keju Gouda Belanda). Karena komposisi nutrisi ini, diasumsikan bahwa susu dan produk-produk susu lainnya dalam makanan bervariasi berkontribusi terhadap kesehatan tulang. Dua ulasan oleh Lamarche et al (2016) dan Thorning et al (2016) mengacu pada berbagai jenis penelitian. Kesimpulan akhir adalah bahwa susu dan produk-produk susu lainnya berkontribusi terhadap kepadatan tulang dan lebih lanjut terhadap kesehatan tulang, terutama pada anak-anak dan orang dewasa. Penelitian kohort dan studi acak lebih lanjut diperlukan untuk menarik kesimpulan yang dibenarkan secara ilmiah tentang risiko patah tulang.

Pengontrolan berat badan

Produk-produk susu merupakan sumber protein yang penting. Protein memainkan peran penting dalam manajemen berat badan, mungkin karena efek saturasi protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan karbohidrat dan lemak. Dalam publikasi oleh Thorning et al (2016), disebutkan sejumlah studi yang menyelidiki dampak konsumsi susu pada berat badan. Pada anak-anak, tidak ada hubungan antara asupan susu dan massa lemak yang lebih tinggi, sementara satu meta-analisis menunjukkan bahwa konsumsi produk susu berkontribusi terhadap pengontrolan berat badan. Studi pembatasan energi pada orang dewasa menunjukkan bahwa produk susu dan susu dalam pola makan membantu memperbaiki komposisi tubuh dan hubungan antara massa lemak dan bebas lemak dalam jangka pendek. Studi jangka panjang tanpa pembatasan energi menunjukkan bahwa konsumsi susu dan produk susu lainnya dalam diet secara keseluruhan memiliki efek netral pada berat badan.

Pertanyaan-pertanyan penelitian

Kedua studi menyimpulkan bahwa ada alasan bagus mengapa susu dan produk susu lainnya termasuk dalam rekomendasi diet di seluruh dunia. Konsumsi susu dan produk susu lainnya meningkatkan asupan berbagai nutrisi yang memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan. Penelitian selanjutnya harus memberikan kejelasan lebih lanjut tentang perbedaan antara produk susu full-fat dan semi-skim. Pada banyak penelitian, produk susu full fat mencakup susu fullfat (3-4% lemak) dan keju Belanda (40-45% lemak) dan dianggap sama. Namun, kandungan lemak dalam produk ini sangat berbeda. Agar dapat mempelajari efek kesehatan susu dengan lebih baik, berbagai jenis susu harus dibandingkan satu sama lain berdasarkan kandungan lemak. Susu fermentasi, misalnya buttermilk, dapat memiliki efek yang berbeda pula.