Susu menyediakan protein berkualitas tinggi yang penting untuk pertumbuhan

Protein berperan dalam membangun dan memelihara jaringan tubuh, seperti otot dan tulang. Protein terbuat dari bahan penyusun yang lebih kecil yang disebut asam amino. Terdapat 20 jenis asam amino dan sembilan di antaranya adalah asam amino esensial (hanya dapat diperoleh dari makanan yang dikonsumsi). Protein susu dianggap protein berkualitas tinggi karena mengandung semua 9 asam amino esensial (AAE) dalam jumlah yang relatif tinggi.

Susu dan produk susu lainnya berperan dalam pertumbuhan

Nutrisi di dalam susuThe South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS 1) menunjukkan bahwa susu, sebagai bagian dari pola makan sehat, memainkan peran penting dalam pertumbuhan anak-anak dengan memberikan asam amino esensial (AAE) dengan ketersediaan hayati (bioavailability) yang tinggi (Nguyen, 2018). Demikian pula tinjauan sistematis 12 studi yang dilakukan di Eropa, Amerika Serikat, Cina, Vietnam Utara, Kenya, Indonesia, dan India menemukan bahwa produk-produk susu, terutama susu, merangsang pertumbuhan tinggi pada anak-anak (De Beer, 2012). Para penulis mencatat bahwa suplemen susu harian sekitar 245 ml selama satu tahun menghasilkan pertumbuhan linear tambahan 0,4 cm/tahun. Studi lain yang memantau pertumbuhan anak-anak perempuan Amerika yang mengonsumsi > 3 porsi susu/hari dari usia 10 tahun hingga dewasa, menunjukkan penambahan tinggi orang dewasa sebanyak sekitar 5,6 cm (Berkey CS, 2009).

Belanda saat ini memiliki populasi dengan tinggi badan tertinggi di dunia. Populasi Belanda telah tumbuh lebih tinggi sekitar 20 cm selama 150 tahun terakhir. Penelitian menunjukkan pertumbuhan tinggi sebagian disebabkan oleh konsumsi tinggi produk-produk susu (Schonbecket al., 2013 Pediatric Research).

Menurut penelitian in vivo, penjelasan yang mungkin adalah bahwa pertumbuhan tinggi dikendalikan oleh target mekanistik kompleks rapamycin C1 (mTORC1) (Laplante dan Sabatini, 2012). Ketika kandungan asam amino spesifik kurang dalam makanan yang dikonsumsi, mTORC1 merasakan kekurangan dan menekan sintesis protein dan lipid serta pertumbuhan sel (Laplante dan Sabatini, 2012). Dengan demikian, asupan AAE yang cukup diperlukan untuk memenuhi persyaratan tubuh untuk pertumbuhan tinggi normal (Semba, 2016). Studi manusia lebih lanjut, terutama pada anak-anak, diperlukan untuk mengonfirmasi hipotesis ini.

Susu mengandung protein berkualitas tinggi

Klasifikasi kualitas protein, yang dikenal sebagai Protein Digestibility Corrected Amino Acid Score (PDCAAS) ditentukan berdasarkan 3 karakteristik (FAO, 1991):

  • jumlah protein dalam makanan,
  • jumlah AAE dalam protein, dan
  • kecernaan protein dalam usus kecil.

Skor protein susu cukup tinggi untuk ketiga prasayarat di atas dengan skor PDCAAS 1,0. Oleh karena itu, susu dianggap sebagai protein berkualitas tinggi. Namun demikian, penggunaan metode PDCAAS untuk menentukan kualitas protein memiliki beberapa keterbatasan dan FAO telah menyarankan metode analisis baru digunakan untuk mengukur kualitas protein.

Metode baru ini dikenal sebagai Digestible Indispensable Amino Acid Score atau DIAAS (FAO, 2013). Metode DIAAS memperhitungkan koreksi perbedaan kecernaan antara protein melalui pengetahuan tentang kecernaan masing-masing EAA dan bukan pada kecernaan seluruh protein. Dalam waktu dekat, metode DIAAS akan dapat menentukan mana dan berapa banyak asam amino dari berbagai sumber protein yang diserap oleh tubuh secara lebih akurat.

Untuk protein susu, nilai PDCAAS dan DIAAS berada jauh di atas 100%. Oleh karena itu, susu dianggap sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang dibuktikan dengan faktor kecernaan tinggi dan surplus EAA dibandingkan dengan pola referensi EAA (FAO 2013).

Kecernaan protein lebih baik diukur pada ujung usus kecil (terminal ileum). Ini dianggap sebagai cara terbaik untuk menentukan ketersediaan hayati asam amino dalam protein makanan untuk diserap dan digunakan dalam tubuh. Metode ini juga memungkinkan perbandingan protein yang diambil dari berbagai sumber makanan. Makanan dapat mengandung faktor-faktor yang mempengaruhi proses pencernaan dan dapat mempengaruhi ketersediaan asam amino untuk penyerapan. Contoh dari faktor anti-gizi seperti itu adalah inhibitor trypsin yang ditemukan dalam sumber protein nabati (Schaafsma, 2012).

Hati dapat mensintesis asam amino non-esensial atau dispensible jika asupan makanan tidak mencukupi, tetapi tidak dapat mensintesis 9 EAA. Sembilan asam amino esensial adalah fenilalanin, valin, treonin, triptofan, metionin, leusin, isoleusin, lisin dan histidin.

Lebih lanjut: