Rangkuman acara peluncuran FrieslandCampina Institute Indonesia

Acara peluncuran FrieslandCampina Institute Indonesia diadakan di Hotel Pullman, 21 Juli 2018 dan telah menjadi salah satu tonggak perjalanan FrieslandCampina Institute di Indonesia. Acara ini dipresentasikan dalam format seminar ilmiah mini, dengan judul: “Addressing Indonesia Children Nutrient Deficiency through Dairy”. Seminar mini ini merupakan contoh bagaimana FrieslandCampina Institute Indonesia dapat secara aktif berbagi pengetahuan dan menstimulasi debat ilmiah mengenai nutrisi, kesehatan dan susu dan secara aktif melibatkan para ahli gizi dan kesehatan Indonesia.

Addressing Indonesia Children Nutrient Deficiency through Dairy 2Acara peluncuran FrieslandCampina Institute Indonesia dihadiri oleh delegasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia), PERGIZI PANGAN (Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia), PDGMI (Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia), dan IBI (Ikatan Bidan Indonesia). Acara ini dimulai dengan kata pengantar oleh Francis Riekhoff, Manajer FrieslandCampina Institute International, dan dilanjutkan dengan presentasi oleh pembicara yang diundang tentang kebaikan susu, pencernaan, dan pertumbuhan optimal.

Kebaikan Susu

Topik pertama dari seminar adalah kebaikan susu, disampaikan oleh Dr. Marudut Sitompul, B.Sc, MPS.

Addressing Indonesia Children Nutrient Deficiency through Dairy 6Susu adalah sumber alami nutrisi penting seperti protein, kalsium, kalium, fosfor, yodium, vitamin B2 (riboflavin), dan vitamin B12. Susu mengandung zat gizi makro dan zat gizi mikro yang dapat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Menurut EFSA Food Composition Database dan Dutch Food Composition Database (2016), segelas 200 ml susu semi-skimmed mengandung 240 mg kalsium (30% AKG), 190 mg fosfor (28% AKG), 320 mg kalium (16% AKG), 30 mcg iodine (20% AKG), 0,38 mg vitamin B2 (28% AKG), 0,8 mcg vitamin B12 (32% AKG). Di Indonesia, susu biasanya diperkaya dengan vitamin D, dan segelas susu 200 ml mengandung 3-6 mcg (20% AKG) (Valentina et al., 2014).

Menurut DIAAS * (Digestable Indispensable Amino Acid Score) kualitas protein dalam susu memiliki skor tinggi 90% untuk dicerna di ileum, dengan susu bubuk memiliki skor 122 untuk anak usia 6 bulan hingga 3 tahun (FAO, 2013). Susu bubuk dan telur memiliki skor asam amino tertinggi dan digunakan sebagai referensi protein untuk menilai kualitas protein makanan lain (skor asam amino = 100). Setelah telur dan susu, unggas dan ikan juga memiliki kualitas protein yang baik. Sebagai perbandingan, kedelai, meskipun merupakan sumber protein yang baik (40,4 g protein / 100 g) memiliki skor asam amino yang jauh lebih rendah dari 58 (Kementerian Kesehatan Indonesia, 1995).

Tipe Makanan Protein (g) Skor Asam Amino Asam Amino Pembatas
1 Beras putih 7.6 54 Lisin
2 Jagung 9.8 47 Lisin
3 Kacang Hijau 24 52 Metionin-Serin
4 Kacang Kedelai Kering 40.4 58 Metionin-Serin
5 Daging ayam 18.1 80 Valin
6 Daging sapi 16.9 69 Valin
7 Ikan Mujair 18.7 72 Valin
8 Ikan Selar 30.9 75 Triptophan
9 Telur 22 100

Konsumsi susu sapi dapat meningkatkan kandungan mineral tulang (Bone Mineral Content/BMC) pada anak sebanyak 90-100 gram selama 2 tahun (Van den Heuvel et al., 2018). Selain itu, konsumsi susu sapi juga menunjukkan dapat meningkatkan densitas mineral tulang (bone mineral density/BMD) sebanyak 0.6-1% (Huncharek et al., 2008).

Addressing Indonesia Children Nutrient Deficiency through DairyKonsumsi susu dalam jumlah yang tinggi meningkatkan konsentrasi IGF-1 (Insulin-like Growth Factor-1) dan IGF-1/IGFBP-3 (Insulin-like Growth Factor-Binding Protein-3) (Hoppe, 2004). IGF-1 memiliki peran yang signifikan pada regulasi pertumbuhan. Publikasi oleh Hoppe (et al., 2004) menunjukkan bahwa konsumsi susu skim yang tinggi, namun bukan daging, meningkatkan serum IGF-1 dan IGFBP-3 pada anak laki-laki usia 8 tahun.

Selain itu, susu juga mengandung asam trans-palmitoleat. Asam trans-palmitoleat telah terbukti memainkan peran dalam menurunkan trigliserida, level insulin puasa, tekanan darah sistolik, dan juga prevalensi diabetes (Mozaffarian et al., 2013).

Persentase total energi makanan yang berasal dari produk susu di negara-negara berkembang masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara maju. Konsumsi susu dan produk susu di banyak negara berkembang tidak memenuhi asupan rekomendasi diet. Di Indonesia khususnya, meskipun Departemen Kesehatan telah menyatakan bahwa susu merupakan bagian dari diet seimbang dan merupakan sumber protein (Pedoman Gizi Seimbang, 2014), tetapi rekomendasi asupan susu dan produk susu belum terbentuk.

Pencernaan

Addressing Indonesia Children Nutrient Deficiency through Dairy 7Pembicara kedua, Prof. Dr. dr. Agus Firmansyah, Sp.A (K), adalah seorang ahli dalam pencernaan anak. Presentasinya mengenai pencernaan dan penyerapan nutrisi memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana nutrisi dicerna pada sistem pencernaan anak dan hubungannya dengan penyakit.

Setiap nutrisi dicerna dengan bantuan enzim tertentu. Di bawah ini adalah beberapa enzim pankreas yang memainkan peran penting dalam mencerna makronutrien (Roxas, 2008):

Enzim Aksi
Enterokinase Mentransformasi tripsinogen menjadi tripsin pada duodenum
Enzim Proteolisis
Trypsinogen (trypsin)
Chymotrypsinogen (chymotrypsin)
Carboxypolypeptidase
Elastase
Tripsin dan kimotripsin memecah protein menjadi polipeptida dan peptida;

karboksipolipeptidase memecah peptidase menjadi asam amino individual

Enzim Amilolisis
Pancreatik amilase
Menghidrolisis pati, glikogen, dan karbohidrat lainnya (selain selulosa) menjadi disakarida dan beberapa trisakarida
Enzim Liptolisis

Lipase

Fosfolipase A1 A2

Esterase

Lipase menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan monogliserida; fosfolipase memecah asam lemak dari fosfolipid, esterase menghidrolisi ester-ester kolesterol

Dalam sistem pencernaan bayi, tingkat pepsin dan produksi lambung lebih rendah daripada orang dewasa. Sekresi asam juga menunjukkan respon yang kurang terhadap rangsangan pentagastrin. Namun, tingkat tripsin sama dengan pada orang dewasa, tetapi tidak pada enzim protease lainnya. Pembawa transportasi di sel-sel usus bayi juga belum sepenuhnya dikembangkan.

Addressing Indonesia Children Nutrient Deficiency through Dairy 1Nutrisi yang dikonsumsi dari makanan dicerna dan diserap di saluran pencernaan. Pencernaan yang optimal memerlukan koordinasi sumbu hormonal-enzim dan fungsi multi-organ yang matang. Malfungsi dan struktur yang abnormal dari organ pencernaan dapat mengarah pada gangguan pencernaan dan malabsorpsi nutrisi yang mungkin bawaan (congenital) atau didapat (acquired). Gangguan penyerapan atau malabsorpsi adalah kondisi dimana usus kecil tidak mampu menyerap nutrisi dan cairan pada jumlah tertentu. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti penyakit lambung, pankreas, dan usus, infeksi, penyakit autoimun, dan pertumbuhan bakteri yang berlebih.

Mekanisme malabsorpsi pada berbagai kondisi (Nolan et al., 2012)

Site Condition Mekanisme
Lambung Gastritis autoimun Hilangnya asam lambung dan pepsin
Pankreas Pankreatitis kronis Berkurangnya sekresi enzim
Hati Penyakit bilier Berkurangnya asam empedu untuk pembentukan micelle dan absorpsi lipid
Usus Short bowel syndrome Hilangnya area penyerapan
Penyakit celiac Atropi vili

Terganggunya sekresi hormon usus

Pertumbuhan bakteri yang berlebih Berkurangnya enzim brush border (permukaan epitel usus kecil yang tertutup mikrovili)

Efek metabolik pada enzim dan asam empedu, serta nutrisi

Intoleransi laktosa Defisiensi laktase karena luka pada mukosa
Infeksi Atropi vili

Pertumbuhan Optimum

Addressing Indonesia Children Nutrient Deficiency through Dairy 5Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A (K), FAAP, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, adalah pembicara ketiga dan berbicara tentang pertumbuhan optimal sehubungan dengan prevalensi stunting di Indonesia.

Indonesia adalah negara lintas benua dengan keragaman etnis yang besar. Sebagian besar penduduknya pendek; laki-laki dewasa rata-rata 12 cm lebih pendek dari tinggi tubuh laki-laki yang dijadikan referensi WHO. Perbedaan tinggi tubuh juga terjadi  pada wanita Indonesia. Sebagian besar tinggi anak-anak Indonesia lebih rendah daripada standar internasional Eropa, maka sejumlah besar anak Indonesia berada di bawah batas cut-off kritis dan dianggap gagal berkembang atau stunting. Hasil dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia menunjukkan bahwa kurang dari 37,2% anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting dan 12,1% wasting, dan 2,5% mengalami wasting dan stunting, sebagian besar anak-anak tergolong pendek dengan berat badan normal (27,4%) atau pendek tapi kelebihan berat badan (6,8%).

Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Uauy (et al., 2001), menyediakan makanan bagi penduduk yang mengalami stunting dan berpenghasilan rendah mungkin bermanfaat bagi sebagian orang, tetapi mungkin dapat merugikan bagi orang lain dan malah menyebabkan obesitas, terutama di daerah perkotaan. Sebuah ulasan Cochrane (Sguassero, dkk., 2005) melaporkan efek positif dalam kelompok yang diberikan makanan tambahan terdiri dari makanan (makanan lokal atau impor), minuman (jus atau susu), dan makanan ringan (termasuk makanan dan makanan ringan susu) selama 12 bulan di Jamaika (n = 65), tetapi tidak ada manfaat yang serupa dalam pertumbuhan setelah 12 bulan persidangan di Indonesia (n = 75). Rata-rata perbedaan adalah 1,3 cm.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Nusa Tenggara Barat, Indonesia, program makanan tambahan 10 bulan yang terdiri dari susu formula, biskuit berkalori tinggi, dan pasokan telur 60 hari, tidak berhasil meningkatkan berat badan dan tinggi anak balita; sebagian besar subjek bertumbuh pendek karena faktor selain malnutrisi (n = 25) dan 80% subjek memiliki status gizi normal sejak awal penelitian (Pulungan et al., 2018).

Di akhir presentasinya, Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A (K), FAAP memberikan rekomendasi tindakan seperti:

  1. Evaluasi seorang anak dengan pertumbuhan lambat / bertubuh pendek harus mencakup pengambilan riwayat secara detail (pribadi dan keluarga), pemeriksaan klinis, dan kurva pertumbuhan.
  2. Tes konfirmasi tambahan sesuai kebutuhan: evaluasi yang disesuaikan untuk evaluasi pasien dan screening harus mengarah pada kondisi dari mana konsultasi khusus diperlukan
  3. Identifikasi pasien dengan varian ‘normal’ dan pertumbuhan yang teratenuasi (patologis)
  4. Mengobati penyebab yang mendasar
  5. Ketidaksesuaian yang ditandai dengan perbedaan antara standar WHO dan data tinggi dan berat badan di Indonesia: anak-anak Indonesia secara signifikan lebih pendek, dan sedikit lebih tua dari standar WHO.
  6. Bagan pertumbuhan sintetis diperlukan untuk mencegah estimasi stunting yang berlebihan dan intervensi yang tidak tepat

Kesimpulan utama

  1. Susu sebagai bagian dari diet sehat mengandung zat gizi makro dan zat gizi mikro yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan. Di samping produk makanan seperti buah dan sayuran, makanan dari biji-bijian, ikan, daging dan telur, susu dan produk susu lainnya adalah bagian dari pola makan seimbang.
  2. Pencernaan yang tidak baik dan malabsorpsi nutrisi dapat menyebabkan malnutrisi kronis yang jika tidak ditangani akan menyebabkan stunting.
  3. Untuk melakukan intervensi yang tepat, prevalensi stunting di Indonesia harus dievaluasi kembali dan disesuaikan dengan bagan pertumbuhan sintetik.

Referensi

  1. Departemen Kesehatan RI. 1995. Daftar Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia. Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. Page: 59-67
  2. Food and Agriculture Organization of United Nation. 2013. Dietary protein quality evaluation in human nutrition. FAO Food and Nutrition Paper: Report of An FAO Expert Consultation. Rome, 2011. Available from: http://www.fao.org/publications/en/
  3. Hoppe, et al. 2004. High intakes of skimmed milk, but not meat, increase SERUM IGF-1 and IGFBP-3 in eight-year-old boys. European Journal of Clinical Nutrition 58, 1211-1216. Available from: https://www.nature.com/articles/1601948
  4. Huncharek, et al. 2008. Impact of Dairy Products and Dietary Calcium on Bone-Mineral Content in Children: Result of a Meta-Analysis. Bone: Volume 43, Issue 2, p: 312-321. Available from: https://www.thebonejournal.com/article/S8756-3282(08)00135-X/fulltext
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta. Available from: http://gizi.depkes.go.id/
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Available from: http://depkes.go.id/
  7. Mozaffarian, et al. 2013. Plasma Phospholip Long-Chain Omega-3 Fatty Acids and Total and Cause-Specific Mortality in Older Adults: A Cohort Study. Annals of Internal Medicine 2013; 158(7):515-525. Available from: http://annals.org/aim/article-abstract/1671714/plasma-phospholipid-long-chain-3-fatty-acids-total-cause-specific
  8. Nolan, et al. 2012. Physiology of Malabsorption. Surgery Journal June 2012 vol. 30, Issue 6, p: 268-274. Available from: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S026393191200052X
  9. Pulungan, Aman B., Dini A. Mirasanti. Effect of community-based food supplementation on improving growth of underweight children under five years of age in West Nusa Tenggara, Indonesia. Paediatrica Indonesiana: The Indonesian Journal of Pediatrics and Perinatal Medicine vol. 56, no. 2, March 2018. Available from: https://paediatricaindonesiana.org/index.php/paediatrica-indonesiana/article/view/1595
  10. Roxas, Mario. The Role of Enzyme Supplementation in Digestive Disorders. Alternative Medicine Review Vol. 13, Number 4. 2008. Available from: http://archive.foundationalmedicinereview.com/publications/13/4/307.pdf
  11. Sguassero, et al. 2005. Community-based supplementary feeding for promoting the growth of young children in developing countries. Cochrane Database of Systematic Review – Intervention. Available from: https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD005039.pub3/full#CD005039-sec1-0004
  12. Uuay, et al. 2001. Obesity Trends in Latin America: Transiting from Under-to Overweight. The Journal of Nutrition, Volume 131, Issue 3, 1 April 2001, pages 893S-899S. Available from: https://academic.oup.com/jn/article/131/3/893S/4687035
  13. Valentina, et al. 2014. Calcium and vitamin D intake of Indonesian children 2 – 12 years old. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, Vol. 25 No. 1 Th. 2014. Available from: http://journal.ipb.ac.id/index.php/jtip/article/view/8307
  14. Van den Heuvel E.G.H.M., Steijns J.M.J.M. (2018). Dairy products and bone health: how strong is the scientific evidence? Nutrition Research Reviews 2018: 1-15. Available from: https://www.cambridge.org/core/journals/nutrition-research-reviews/article/dairy-products-and-bone-health-how-strong-is-the-scientific-evidence/3387593447B20D7AA60E722574E18D66