PROMISS: Asupan protein yang rendah pada lansia yang tinggal di komunitas

Berbicara di konferensi European Federation of the Association of Dietitians (EFAD) yang diadakan di Rotterdam (Belanda) pada 28 dan 29 September 2018, Marjolein Visser dari Departemen Ilmu Kesehatan, Vrije Universiteit Amsterdam, mempresentasikan temuan yang tidak dipublikasikan dari percobaan PROMISS (Prevention Of Malnutrition In Senior Subjects atau Pencegahan Malnutrisi Pada Subjek Senior) yang sedang berlangsung. Uji coba PROMISS berfokus pada pemahaman dan pencegahan malnutrisi energi protein pada orang lanjut usia yang tinggal di komunitas.

Ringkasan | Temuan awal dari uji coba PROMISS menunjukkan kesenjangan dalam pemahaman kekurangan energi protein dan protein di kalangan lansia yang tinggal di komunitas. Mayoritas lansia tidak tahu peran protein dalam nutrisi sehari-hari. Selain itu asupan protein harian yang direkomendasikan saat ini 0,8 g/kg berat badan yang disesuaikan/hari harus ditingkatkan untuk mencegah berkembangnya malnutrisi energi protein.

Malnutrisi energi protein didefinisikan sebagai hilangnya massa tubuh tanpa lemak dan jaringan adiposa secara progresif karena ketidakcukupan konsumsi protein dan energi (1). Orang-orang lanjut usia memiliki peningkatan resiko untuk terkena malnutrisi energi protein. Prevalensi malnutrisi energi protein adalah 12% pada lansia yang tinggal di komunitas Belanda (≥65 tahun) dengan perawatan di rumah, 7% pada mereka yang tidak memiliki perawatan di rumah dan 18% untuk mereka yang tinggal di panti jompo (2). Karena mayoritas (90-97%) dari para lansia tinggal di rumah, kekurangan energi protein adalah masalah yang cukup besar.

PROMISS: Asupan protein yang rendah pada lansia yang tinggal di komunitasMenurut Visser, semua peserta (n = 8107) dari uji coba PROMISS berusia ≥55 tahun. Menggunakan titik ambang batas <0,8 g/kg berat badan/hari yang disesuaikan, prevalensi asupan protein rendah adalah sebesar 21,5%. Selain itu, prevalensi asupan protein rendah dikaitkan dengan jenis kelamin — wanita cenderung memiliki asupan protein lebih rendah daripada pria, BMI — mereka dengan BMI yang lebih tinggi (kelebihan berat badan dan obesitas) cenderung memiliki asupan protein dan nafsu makan yang rendah. Visser mencatat bahwa nafsu makan yang buruk berkaitan dengan asupan protein yang rendah. Asupan protein rendah tidak terkait dengan berbagai faktor seperti usia, tingkat pendidikan, status hidup dan status berat badan.

Secara umum, tingkat pengetahuan tentang protein di kalangan lansia yang tinggal di komunitas tergolong rendah, kata Visser. Mayoritas (64,7%) dari lansia tersebut tidak tahu apa itu diet protein. Di antara mereka yang tahu, 3 kesalahpahaman yang paling umum adalah:

  • Satu kali makan sehari dengan sumber protein yang baik sudah mencukupi;
  • Ahli kesehatan merekomendasikan orang seusia saya untuk mengkonsumsi lebih sedikit protein;
  • Tubuh manusia mampu menyimpan protein untuk digunakan nanti, sehingga tidak perlu mengkonsumsi protein dalam jumlah stabil setiap hari.

Temuan awal dari percobaan PROMISS ini sejalan dengan temuan laporan lain: asupan protein yang lebih tinggi di atas RDA saat ini (asupan harian yang direkomendasikan) 0,8 g/kg berat badan yang disesuaikan/hari mungkin diperlukan untuk mencegah kekurangan energi protein pada orang lanjut usia yang tinggal di komunitas, Visser menyimpulkan.

Referensi

  1. Hengeveld LM, Wijnhoven HAH, Olthof MR, Brouwer IA, Harris TB, Kritchevsky SB, Newman AB, Visser M; Health ABC Study. (2018) Prospective associations of poor diet quality with long-term incidence of protein-energy malnutrition in community-dwelling older adults: the Health, Aging, and Body Composition (Health ABC) Study. Am J Clin Nutr2018; 107(2): 155-164. https://academic.oup.com/ajcn/article/107/2/155/4911431.
  2. Undernutrition in community-dwelling older individuals. Recognition and Treatment. 2013. Available at: http://www.stuurgroepondervoeding.nl/wp-content/uploads/2016/06/2013-Janneke-Schilp.pdf